Wednesday, June 17, 2015
Stage six (1): red label
300614 - 020714
bukan, red label bukan merk bir. label merah disini label merah igd. itu sistem triage yang misahin pasien berdasarkan kegawatannya. label merah berarti pasien cedera berat yang mengancam jiwa dan butuh pertolongan segera. label kuning berarti pasien cedera yang tidak mengancam jiwa, penanganannya bisa ditunda beberapa jam. label hijau berarti pasien cedera ringan dan tidak memerlukan pertolongan segera. ada satu lagi sebenernya, label hitam berarti pasien sudah meninggal atau cedera fatal yang tidak memungkinkan untuk ditolong jadi tidak perlu ditangani atau bisa diabaikan buat ngurusin yang lebih gawat.
Sistem itu juga berlaku kalau ada bencana, secara sederhana, misalnya kalau ada korban yang teriak teriak minta tolong sama korban yang tergeletak diem aja, nggak ada napas nggak ada nadi sama korban yang napasnya sengal sengal sampe nggak bisa ngomong, pilih tolongin yang mana?
yes, korban yang nomor tiga, setelah ngecek yang nomor dua tadi bener bener sudah meninggal. why? yang teriak teriak berarti masih bisa napas dibiarin dulu bisa lah, yang sudah meninggal yamau ditolong gimana lagi, mending nolongin yang napas separo separo itu masih ada harapan hidup kalau ditolong segera. yes, even on that situation life is so cruel and choosy.
Jaga label merah mengingatkan saya bahwa kita sangat sangat dekat dengan kematian, lebih dekat dari friendzone, lebih dekat dari hatiku dan hatimu #halah. serius. dan kalau saya indigo pasti saya sudah diundang minum teh bareng malaikat Izroil saking seringnya ketemu beliau di label merah. karena jujur saja, tiap saya jaga pasti ada saja yang meninggal , kalau kata inspektur megure, saya jadi merasa kayak kogoro mouri dimana tiap dia di tkp pasti ada kasus orang meninggal*sigh.
Namanya label merah, pasien selalu datang tiba tiba, dengan perawat yang setengah berlari dan keluarga yang antara diam karena bingung dan yang berurai air mata. malam itu, datang ibu-ibu bawa bayi usia beberapa hari, diare muntah muntah, katanya di taxi masih setengah sadar, sambil diberi minum susu. tapi sampai di igd saya pegang tangannya sudah dingin, bibirnya membiru. no cardinal sign, intubasi dan rjp sudah, no response. (note: chest compression cukup pake jempol i was like, "really! she's still a tiny little baby :("
disini teman-teman, kalau ada orang nggak sadar, kesadaran menurun, jangan masukkan apapun ke mulut, makanan, minuman, karena salah-salah malah bisa masuk saluran napas. dan benda apapun yang masuk saluran napas selain udara itu mematikan. Jadi cause of death nya adek bayi tadi highly suspected karena aspirasi cairan susu, or as we say it, keselek :( seriously sesederhana itu tapi fatal lho, beneran.
lain waktu, ada anak remaja yang habis operasi craniotomi buat evakuasi hematom, pasca kecelakaan. waktu saya jaga dia di label merah habis operasi karena nggak dapat ruangan di icu. nggak sadar, nggak napas spontan, koas yang bagging. seperti itu harusnya pakai ventilasi tapi karena ICU penuh, apa daya koas...Jadi sudah berhari hari dia disana sudah berapa kali ganti koas yang bagging. waktu giliran saya, orang tuanya setia bolak balik gantian nemenin anak itu, karena di igd nggak boleh banyak banyak orang masuk. walaupun kondisinya memburuk, mereka masih sangat sangat nggak ikhlas kalau misalnya anaknya meninggal.
and it was so heart breaking mendengarkan apa yang mereka bilang ke anak mereka. si ayah bicara tentang sepeda motor di rumah yang boleh dipakai sama anaknya semau dia, nggak ada yang bakal ngelarang lagi, si ibu bicara tentang siapa yang bakal mengantar dia ke pasar kalau si anak nggak sembuh sembuh. sambil nggak putus putusnya mereka merapalkan doa doa buat si anak, sampai mengoles oles air yang mungkin menurut mereka sudah didoakan , ke perut, lengan dan dahi si anak. sampai disini, masker saya kuyup kena ingus.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment