saya kira kalau ditanya, bagian mana dari koas yang paling berat dijalani? sebagian koas akan menjawab, "jaga". termasuk saya.
Tapi,
saya nggak akan tahu rasanya seorang ibu yang sudah habis air matanya menunggui anaknya yang kena dengue syok sindrome dan sewaktu-waktu bisa dipanggil Allah kalau saya nggak disuruh residen bolak-balik lantai 1 lantai 2 buat ngecek tanda vital sang anak tiap 15 menit, sepanjang malam jaga.
saya nggak akan tahu kalau ada ibu yang setiap hari membunyikan ayat-ayat alQuran di dekat sang anak yang sedang menggigil, kaku, nggak bisa bergerak karena meningitis kalau pagi itu saya nggak berangkat ke rumah sakit pakai jas hujan selagi orang rumah masih terlelap.
saya nggak akan tahu betapa kematian sungguh dekat dengan manusia kalau malam itu saya nggak nangis di atas motor menerjang hujan deras dalam perjalanan ke kariadi buat jaga malam.
anak itu masih belasan tahun, punya ALL ( Acute Lymphoblastic Leukemia), leukositosis, kejang gelisah meregang nyawa di ruang PICU. maaf ya dek, saya cuma bantu doa dan bawakan penurun panas buatmu waktu itu. harapan saya kalau panasmu turun kejang dan gelisah mu bisa hilang dan kamu bisa tidur nyenyak. tapi ternyata Allah menghendakimu tidur di sisiNya, malam itu juga. Innalillahi wainna ilaihi roji'un.
saya nggak akan tahu rasa sedihnya mendoakan seorang anak TK yang lagi kritis, nggak sadarkan diri karena penyakit jantung dan tersedak biji salak kalau saat itu saya nggak bagging berdiri sampai 2 jam. sembuh ya nak, kasihan orang tuamu pengen lihat kamu jadi juara kelas di sekolah, saya berbisik. sampai beberapa hari kemudian saya dapat kabar anak itu meninggal. innalillahi wainnailaihi roji'un. maaf ya nak, saya cuma bisa bantu doa waktu itu..
saya nggak akan tahu bahwa seorang bayi itu lahir tanpa dosa kalau saya nggak harus terbangun dini hari dan tidur terduduk kedinginan di IGD. Bayi itu datang sekitar jam 2 pagi, dibawa mas perawat sambil berlari, plasenta masih menggantung, darah menetes netes di lantai IGD. setelah saya dekati ternyata banyak debu di badannya yang masih lengket, dan ada memar. baru kemudian saya tahu, dia ditemukan orang di pinggiran jalan di dekat ibunya yang masih lemas. baru kemudian saya tahu juga, si ibu seperti orang tunawisma,
berantakan, dan nggak tahu siapa ayah bayinya. Alhamdulillah si adek bayi sehat, gemuk, nggak cacat, cakep lagi. Allah Maha Baik ya.
seorang bapak-bapak datang berlari ke IGD dengan muka panik, menggendong bayinya laki-laki usia 8 bulan. demam 5 hari. dengan bintik bintik merah di sekujur tubuhnya. ibunya pingsan. si adek bungsu dari 3 bersaudara. kakak pertamanya masuk rumah sakit karena DSS bersamaan dengan kakak keduanya yang perempuan. kakak keduanya meninggal karena DSS tak terkompensasi. kakak pertamanya, anak yang saya cek tanda vitalnya tiap 15 menit, malam kemarin. saya nggak bisa bayangkan kalau saya jadi si bapak.
jangan pernah sekali-kali mulai sesuatu dengan prasangka, apalagi ketakutan. saya pernah dengar, prasangka Allah adalah prasangka hambaNya.
saya lihat sendiri bahkan di tengah kesusahan orang masih bisa menemukan alasan untuk bersyukur sama Allah. 2 anak itu laki-laki dan perempuan berlarian di koridor rumah sakit tertawa gembira, bermain staples dan pelubang kertas di ruang perawat. mana orang tahu kalau mereka sama-sama punya Thalassemia, mana orang tahu kalau tiap bulan mereka harus ke rumah sakit, harus menangis ditusuk jarum infus untuk transfusi darah.
"Bu, sisirnya mana aku mau sisiran." anak itu perempuan 8 tahun sedang kontrol di poli, ditanya residen "lho ada siapa yang ganteng kok tiba-tiba mau dandan" dan si anak sambil tersenyum malu melirik ke orang berjas putih lengan pendek.."oalaah pak dokter ituu"
wah dek, kita kok sehati
bisa juga ya ketemu anak perempuan yang mewek waktu mau diinfus bilang enggak mau diinfus tapi kemudian, "adek mau plesternya yang gambar barbie"
sesederhana itu ya dek hidupmu, kakak juga mau.
alhamdulillah, semoga. 2 bulan saya nangis nggak sia-sia, saya stress nggak sia-sia. Terima kasih stase anak :)
No comments:
Post a Comment