Ada sebuah cerita yang berasal dari tradisi Zen tentang seorang murid muda yang sangat menderita. Dia tak bisa beristirahat barang sejenak pun. Dia memutuskan untuk meminta pertolongan pada gurunya.
Sang guru menyarankan agar dia memasukkan sesendok kecil garam kasar ke segelas air, mengaduknya, kemudian meminumnya. Murid itu melakukan sebagaimana yang diminta sang guru. Tentu saja, air itu terasa asin sekali.
"Sekarang, kata sang guru, menunjuk ke arah mata air yang menggelegak dari dalam tanah, "Aku ingin kau menaburkan satu sendok kecil garam kasar ke mata air itu." Si murid melakukannya, Ketika sang guru memerintahkannya untuk meminum air itu, si murid tak merasakan asin sama sekali.
'Persoalannya bukan terletak pada garam', kata sang guru,'Persoalannya ada pada wadahnya. Kau harus membuat wadahnya menjadi lebih besar.'
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
waktu itu masa-masa koas interna, di antara hari jaga, maju kasus, dan kodrat koas yang, yah.. masih begitu-begitu saja.
suatu hari saya diajak ikut baksos ke daerah pinggiran kota. macam macam pikirannya, sama siapa, disana nanti ngapain, memangnya saya bisa? capek nggak nanti, besok kan hari senin masuk, dan bla bla bla. Akhirnya saya bilang iya, saya ikut. entah
banyak yang ikut ternyata, disana kami bantu-bantu ngasih obat. sebenarnya bisa saja ikut anamnesis, periksa pasien, ngasih resep,but back then i was still too clumsy, belum berani, hehehe takut salah salah. it was quite fun, jadi hafal kan, kami biasa kasih HCT atau captopril buat bapak-ibu dengan tensi tinggi, eyang-eyang yang sakit pinggang sakit lutut bilang terima kasih dikasih obat gratis sama mbak mbak cantik macem kami #dih. cepat sembuh ya mbah, jangan makan emping banyak-banyak..
yah, kalian tahu kan rasanya...orang yang membantu orang lain akan mengalami perasaan yang jauh lebih baik dengan cepat, said a psikolog.
selain kami, ternyata ada koas dari universitas lain yang datang, saya ketemu temen lama saya. nggak tau, saya selalu senang ketemu dianya. kami selalu ketemu nggak sengaja di suatu kesempatan dan itu amazing :))
kami pulang masih agak siang. bosen, menujulah ke karaoke. never say no to that hahaha. habis itu kemana kita? ya, wonderia. kalau bukan karena ide teman saya satu itu mana ada kepikiran mau ke taman bermain terlupakan gitu?pengunjungnya cuma ada kami, sama satu keluarga kecil ayah ibu anak yang pasti cuma mau nemenin anaknya jalan-jalan. si anak tentu belum ngerti kalau itu taman bermain yang dulunya ramee terus karena suatu tragedi jadi sepi.
padahal itu hari libur, kalau mau naik wahana harus bilang ke petugasnya biar dinyalain, petugasnya pun harus nyari dulu, nggak stand by. hahaha. kasihan juga sih, masih ada yang kerja disitu, tapi kalau sepi begitu, gimana..?
kami masuk rumah hantu, setelah sekian lama..dulu kalau mau masuk antrinyaa setengah hari, terus teriak teriak nggak jelas antara kaget, gelap takut ada yang grepe" apa gimana. hahaha. naik bom bom car. dengan track record buruk, dulu suka main ini diajakin bapak, nabrak mobil lain entah kena apaa tapi yang sakit pipinya. mungkin itu kenapa sekarang jadi segede ini. inflamasinya kronis hiks.
sampai mataharinya hilang, kami masih disana. nggak bakal tahu kan disana kalau malem sebagus itu, lagi ada lampu- lampu hias lope lope karena itu menjelang valentine. and there was this carousel, lampu-lampu kuningnya bagus banget. sukak
see? i was fine, nggak cemas, nggak capek, saya pulang dengan hati senang, senyum mengembang. thanks to the girls, you brought me out of my shell and reminds me how the world is a wide place to see.
satu lagi kutipan dari Letters to Sam,
Masalahmu tidak pernah akan berakhir, Sam. tak seorang pun di antara kita berdua bisa berharap frustasi yang kaurasakan hilang begitu saja. kau juga tak bisa menghindari penderitaanmu. namun, kalau kau melangkahkan kaki ke dunia luar, kurasa kau akan menemukan bahwa wadah itu sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang ada dalam bayanganmu.